Hutan yang Dikeramatkan
karya: Anggie Dwi Prasasti Pada suatu ketika, di desaku sedang mengadakan acara pembacaan do’a bersama semua warga yang tinggal disana. Aku, Rina, Yurika, dan Budi janjian untuk berangkat bersama ke acara itu. Setelah selesai shalat maghrib, kami berkumpul di halaman Masjid untuk jalan bersama. “Mmm kita berangkatnya nanti dulu yaaa, tunggu ibu sama bapakku buat jalan kesana bareng” pintaku kepada teman-teman agar menunggu sejenak. “Duh, lama nggak Nur?” tanya Budi dengan nada agak kesal. “Nggak kok, kita tunggu saja disini sambil duduk terus ngobrol apa gitu biar nggak sepi-sepi amat hehehe” jawabku sambil ketawa kecil. Aku dan teman-teman pun duduk dan ngobrol di tepi taman Masjid sembari menunggu ibu dan bapakku datang. “Eeh kalian tau nggak cerita yang ada di desa kita?” tanya Budi. “Nggak tauu, emang desa kita punya cerita terdahulu yaaaa?” ucapku dengan nada yang penasaran. Semua teman-temanku terdiam. Tapi konon katanya ada sebuah kemaliq yang sangat dijaga ...