Hutan yang Dikeramatkan

 karya: Anggie Dwi Prasasti

Pada suatu ketika, di desaku sedang mengadakan acara pembacaan do’a bersama semua warga yang tinggal disana. Aku, Rina, Yurika, dan Budi janjian untuk berangkat bersama ke acara itu. Setelah selesai shalat maghrib, kami berkumpul di halaman Masjid untuk jalan bersama.

“Mmm kita berangkatnya nanti dulu yaaa, tunggu ibu sama bapakku buat jalan kesana bareng” pintaku kepada teman-teman agar menunggu sejenak.

“Duh, lama nggak Nur?” tanya Budi dengan nada agak kesal.

“Nggak kok, kita tunggu saja disini sambil duduk terus ngobrol apa gitu biar nggak sepi-sepi amat hehehe” jawabku sambil ketawa kecil.

Aku dan teman-teman pun duduk dan ngobrol di tepi taman Masjid sembari menunggu ibu dan bapakku datang.

“Eeh kalian tau nggak cerita yang ada di desa kita?” tanya Budi.

“Nggak tauu, emang desa kita punya cerita terdahulu yaaaa?” ucapku dengan nada yang penasaran.

Semua teman-temanku terdiam. Tapi konon katanya ada sebuah kemaliq yang sangat dijaga oleh warga sekitar. Kemaliq ini merupakan tempat bertafakur para leluhur.

***

“Nur, kamu ini hidup dimana si? Bisa-bisanya nggak tau cerita yang ada di desa sendiri” ujar Rina padaku dengan nada kesal sembari ketawa kecil.

“Di desa kita kan ada tempat yang di keramatkan, mm kalau ndak salah namanya Kemaliq.” Ujar Yurika memberitahuku.

“Kemaliq? Emang kemaliq itu tepatnya ada dimana?” tanyaku dengan sangat penasaran.

“Dia ada di hutan, kemaliq yang ada disini diberi tanda dengan batu.” Ujar Budi.

“Iya Nur, dulu juga katanya ada leluhur yang senang berada di tempat itu untuk memanjatkan doa kepada Tuhan disebabkan tempat itu memberikan kenyamanan dan leluhur kita sangat suka dengan tempat itu” lanjut Yurika.

“Oooo tapi kenapa sekarang kemaliq itu bentuknya sudah berbeda yaaa?” aku bertanya kepada teman-temanku.

“Yaa karena itu ingin diambil alih oleh warga pendatang. Maka dari itu kita harus menjaga kemaliq itu dari tangan jahil yang ingin merusak kemaliq.” ujar Rina.

***

Tidak lama ibu dan bapakku datang untuk berangkat bersama ke acara pembacaan do’a itu. selama diperjalanan kami menanyakan kebenaran cerita itu pada bapak dan ibu. Ternyata cerita itu benar. Hutan yang ada di desaku dikeramatkan oleh warga sekitar karena konon itu tempat beristirahatnya para leluhur, ia duduk disebuah batu untuk memanjatkan do’a kepada Tuhan dengan cara mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu, tempat yang disebut dengan kemaliq itu berusaha diambil alih oleh warga pendatang. Akan tetapi, warga di sekitar tempat tinggalku sangat mempertahankan kemaliq yang berada di hutan tersebut dengan alasan agar kita mempunyai peninggalan sejarah yang diberikan oleh leluhur kita terdahulu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGENAL PENINGGALAN SEJARAH YANG ADA DI PULAU LOMBOK KHUSUSNYA KEMALIQ RANGET

Mengenal Kemaliq Ranget